-->

who facilitates the work of the false nine and operates in tandem with him to destabilise opposition defences

EKSPEKTASI TERHADAP HANSI FLICK

"Hidup harus penuh dengan optimisme. Seberat apapun cobaan yang menghadang, pasti akan ada harapan. Badai pasti berlalu". Begitulah kira-kira kata para motivator. Mungkin kata-kata itu yang harus dipegang oleh fans Barcelona belakangan ini. Apalagi, musim lalu dilalui tanpa raihan apapun. Bahkan di laga El Classico, Barca tak berkutik dihadapan Real Madrid dengan menelan 4 kekalahan dalam 4 pertemuan terakhir di pertandingan resmi.

Sejujurnya, Hansi Flick masih memberikan trauma tersendiri bagi saya pribadi. Kenangan kekalahan 2-8 dengan Bayern Muenchen menghancurkan harapan dan kesenangan saya dalam menonton bola. Melihat klub kesayangan dibobol 8 kali dalam kurun waktu 90 menit tidaklah mudah. Barca dibuat seperti tim amatir yang mencoba peruntungan melawan klub profesional. Bahkan Lionel Messi tak bisa berbuat banyak dalam pertandingan tersebut. Quique Setién harus didakwa melakukan kriminal dengan taktiknya kala itu.

Tapi trauma tersebut memang harus dilawan, atau setidaknya disembuhkan. Saya lebih trauma melihat kepemimpinan Xavi di Barcelona. Tak selamanya gelandang hebat akan menjadi pelatih hebat. Harapannya, Xavi menjadi suksesor Guardiola untuk menjadi pelatih top dunia setelah menjadi gelandang hebat. Nyatanya, ekspektasi jua yang menghancurkan kita. Xavi seolah produk yang tak lulus tes quality control pada kondisi tekanan tinggi. Barca kerap tampil anti klimaks ketika dihadapkan dengan pertandingan-pertandingan penting. Puncaknya musim ini, dalam pertandingan quarter final menghadapi Paris Saint-Germain, La Blaugrana harus takluk 1-4. Padahal, Barca sudah mengamankan kemenangan pada leg pertama.

Fans Barcelona sudah cukup lama mengalami penderitaan. Kebijakan transfer yang kacau balau hingga pengelolaan keuangan yang tak kompeten berdampak kepada permainan tim. Pergantian Presiden kepada Joan Laporta tak serta merta mengangkat permainan di lapangan. Keterbatasan dana transfer ini juga tak diimbangi dengan kejelian manajemen dalam membeli pemain. Faktanya, kepergian Sergio Busquets masih belum mampu ditambal oleh manajemen. Kedatangan Oriol Romeu tak mampu memenuhi ekspektasi para fans. Sedangkan Frenkie De Jong tak nyaman jika ditempatkan sebagai single-pivot. Akibatnya, serangan lawan kerap tak bisa disaring oleh lini tengah dan langsung berhadapan dengan para pemain bertahan.

Kedatangan Hansi Flick diharapkan mampu membawa angin segar bagi FC Barcelona. Apalagi, Hansi Flick menjadi manajer pertama yang pernah memenangkan UEFA Champions League sebelum melatih Barcelona. Beberapa manajer sebelumnya Barcelona selalu menunjuk orang yang belum berpengalaman. Mulai dari Frank Rijkaard yang bahkan belum pernah memenangkan liga sebelum melatih Barca, hingga Pep Guardiola yang sebelumnya "hanya" melatih tim Barcelona B. Bahkan Xavi Hernandez tak pernah melatih di Eropa sebelum menangani tim utama La Blaugrana. Oleh karena itu, penunjukkan Hansi Flick menjadi langkah serius yang diambil oleh manajemen Barca untuk mengarungi kompetisi yang semakin berat.

Perlu disadari, bahwa kedatangan Hansi Flick tak serta merta akan membuat Barcelona menjuarai Champions League. Materi pemain Barcelona masih jauh dari cukup untuk bersaing di kompetisi Eropa. Namun, setidaknya Hansi Flick bisa memberikan pelajaran mental kepada para pemain muda Barca, agar mereka bisa menghadapi tekanan pada pertandingan penting.

Penunjukan Hansi Flick memang cukup unik. Ia merupakan orang yang bertanggung jawab atas nestapa yang ditanggung oleh Barca pada musim 2019/2020. Sekarang, dia bertugas untuk membalut luka yang ia tancapkan. Pemulihan yang diharapkan terjadi pada era Xavi Hernandez tak kunjung terjadi. Meski berhasil menjuara La Liga pada musim 2022/2023, Xavi tak mampu membawa prestasi serupa pada tingkat Eropa. Hansi Flick yang dikenal dengan taktik positional-nya harus bisa meracik tim ini untuk bersaing tak hanya di liga domestik, namun juga pada tingkat Eropa.

Pe-er pertama Hansi Flick adalah mencari gelandang bertahan yang dapat diandalkan. Praktis, sejak kepergian Sergio Busquets, tak ada yang bisa mengemban tugas tersebut. Oriol Romeu yang diharapkan mampu mengisi lubang tersebut, malah tampil anti klimaks dan kerap menjadi titik lemah permainan Barca. Belakangan ini, Barca kerap dihubungkan dengan beberapa pemain, namun anehnya tak ada satupun yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Malah Nico Williams yang diisukan akan segera mendarat di Camp Nou. Padahal, gelandang bertahan menjadi posisi yang harus segera ditambal. Frenkie de Jong tak bisa diharapkan untuk menjadi single-pivot.

Ekspektasi memang boleh tinggi, namun harus disertai kemampuan untuk menginjak bumi. Talenta muda yang dimiliki oleh Barca memang menjanjikan. Terutama setelah penampilan Lamine Yamal pada Euro 2024 kemarin. Namun, kompetisi liga adalah kompetisi yang panjang. Dibutuhkan konsistensi dan kedalaman pemain. Kedatangan Hansi Flick akan percuma apabila manajemen Barca tak melakukan perekrutan pemain dengan tepat. Tak ada salahnya berguru pada rival abadi dalam hal ini. Real Madrid tak kesulitan untuk melakukan regenerasi pemain. Sedangkan Barca masih mencari siapa pengganti Sergio Busquets. Jadi, apa harapan Anda terhadap Hansi?

Labels: Barcelona

Thanks for reading EKSPEKTASI TERHADAP HANSI FLICK. Please share...!

0 Komentar untuk "EKSPEKTASI TERHADAP HANSI FLICK"

Back To Top