-->

who facilitates the work of the false nine and operates in tandem with him to destabilise opposition defences

BADMINTON TANPA EMAS (LAGI)

Perjuangan Gregoria Mariska Tunjung akhirnya harus kandas di babak semifinal tunggal putri Olimpiade 2024. Tunggal putri yang kerap disapa Jorji ini harus takluk dari An Se-young yang berasal dari Korea Selatan. Kontingen badminton Indonesia harus puas pulang tanpa medali emas pada perhelatan Olimpiade kali ini, mengulangi cerita di Olimpiade London 2012 yang lalu.

An Se-young dan Jorji pasca pertandingan semifinal Olimpiade di Paris 2024

Kontingen badminton Indonesia harus berpuas diri mengakhiri Olimpiade Paris 2024 dengan raihan 1 perunggu. Satu-satunya medali Indonesia datang dari sektor tunggal putri. Gregoria Mariska Tunjung "dihadiahi" medali perunggu setelah calon lawannya diperebutan tempat ketiga mengalami cedera dan dinyatakan tak dapat bertanding. Carolina Marin mengalami cedera di babak semifinal dan tak mampu bertanding pada perebutan tempat ketiga.

Pada sektor lain, wakil Indonesia tak mampu berbicara banyak. Sektor ganda putra yang diharapkan mampu menyumbang medali harus gugur dibabak 8 besar. Fajar/Rian harus mengakui keunggulan ganda putra China, W.K. Liang/C. Wang dua set langsung, 24-22 dan 22-20. Sektor tunggal putra malah lebih mengenaskan, kedua atlet Indonesia pada sektor ini bahkan tak mampu lolos dari fase grup, pertama kali sejak format grup diperkenalkan di Olimpiade. Sektor ganda putri dan ganda campuran juga tak mampu melangkah jauh. Nasibnya sama dengan sektor tunggal putra yang terhenti dibabak fase grup.

Pukulan telak bagi dunia bulutangkis tanah air. Salah satu cabor yang menjadi andalan Indonesia untuk meraih medali malah gagal total. Ini melanjutkan catatan buruk badminton pada ajang multi-event. Sebelumnya, pada Asian Games Hangzhou 2023, Indonesia sama sekali tak meraih medali pada sektor badminton. Sebuah noda hitam bagi dunia bulutangkis Indonesia. Publik dibuat kecewa dengan kepengurusan PBSI. Para pengurus dianggap tak kompeten dalam mempersiapkan atlet Pelatnas untuk bersaing di ajang yang bergengsi. Tak hanya itu, PBSI saat ini dianggap membawa prestasi bulutangkis Indonesia memasuki masa kegelapannya.

Kondisi carut marutnya manajemen PBSI saat ini sebenarnya sudah tercium ketika Kevin Sanjaya merasa 'dipaksa' untuk berhenti dari badminton. Pada sebuah unggahan di Instagram, Kevin Sanjaya mengungkapkan bahwa PBSI menggantungkan nasibnya dan tak segera mencarikan pasangan bagi Kevin. Situasi tersebut membuat Kevin merasa tak dipedulikan sehingga memutuskan untuk pensiun di usia yang masih sangat muda. Netizen murka terhadap federasi dan meminta para pengurusnya untuk mundur.

Sepertinya para pejabat di Indonesia memang sudah kehilangan urat malu. Setelah prestasi dan manajemen yang carut marut tak membuat Ketua Umum PBSI, Agung Firman Sampurna bersedia mengundurkan diri. Ia beranggapan bahwa pengunduran diri sama saja menyerah. Tolol emang. Prestasi hancur pada dua ajang secara berturut-turut tak membuat Bapak Agung ini menjadi tau malu.

Sudahlah, Pak. Dengan segala hormat, mewakili seluruh pecinta bulutangkis di Indonesia. Tolong mundur. Berikan kepada orang yang kompeten dan memang mencintai bulutangkis. Kami para penikmat bulutangkis sudah muak dengan kepengurusan PBSI. Jangan menjadikan olahraga ini sebagai batu loncatan untuk karir yang lebih tinggi. Kalau Bapak tak mencintai bulutangkis, jangan pura-pura menyukainya. Jangan sampai anak-anak Indonesia tak bisa lagi bangga dengan prestasi atlet kita.

Untuk para atlet Indonesia, khususnya atlet badminton. Terima kasih atas perjuangan kalian. Kami tau bahwa kalian pasti lebih terpukul dibandingkan kami. Kami tau kalian telah berjuang dengan maksimal. Terima kasih. Teruslah berjuang. Kami akan terus mendampingi perjuangan kalian. Kami akan terus menyuarakan perbaikan PBSI. Kami tau, perjuangan kalian akan lebih terbantu dengan federasi yang lebih baik.

Labels: Badminton, Nasional

Thanks for reading BADMINTON TANPA EMAS (LAGI). Please share...!

0 Komentar untuk "BADMINTON TANPA EMAS (LAGI)"

Back To Top