Pertemuan Barca dan Inter dibabak semifinal Liga Champions musim 2024/2025 memunculkan kenangan buruk bagi sebagian besar fans Barcelona. Lima belas tahun lalu, yaitu pada musim 2009/2010, Barca bertemu dengan Inter di babak semifinal UCL. La Blaugrana yang saat itu diperkuat Zlatan Ibrahimovic memang lebih diunggulkan dibandingkan skuad asuhan Jose Mourinho. Bagaimana tidak, musim sebelumnya, yaitu 2008/2009, Barcelona berhasil menggondol seluruh gelar dari setiap kompetisi yang diikuti. Namun, keunggulan tersebut tak tampak diatas lapangan. Bahkan, sebelum pertandingan leg pertama dimulai, Barcelona sudah dilanda cobaan.

Uniknya, alam pun seperti ingin ikut campur dalam pertempuran kedua klub kala itu. Tepat beberapa hari sebelum pertandingan leg pertama di Giuseppe Meazza dilakonkan, salah satu gunung berapi di Eropa meletus dan membuat rute penerbangan di benua Eropa terganggu. Akibatnya, pasukan Pep Guardiola terpaksa menempuh jalur darat dari Barcelona menuju kota mode, Milan. Waktu perjalanan yang seharusnya hanya 1 atau 2 jam menjadi 9 sampai 13 jam melalui jalur darat. Apa dikata, alam seperti berpihak kepada Inter.
Leg pertama di Stadion milik Pemkot Milan berakhir dengan kemenangan Diego Milito cs. Messi dibuat tak berdaya oleh taktik bertahan yang diterapkan oleh The Special One. Gol Pedro Rodriguez di menit 19 hanya menjadi pembuka bagi duka yang akan menimpa Barca. Inter tampil efektif dengan melesakkan 3 gol melalui Sneijder, Maicon, dan Diego Milito. Pep Guardiola terdiam. Letusan gunung berapi di Islandia nyatanya berlanjut di gawang Victor Valdes. Defisit dua gol menghadapi tim yang diasuh oleh Mourinho kala itu adalah mimpi buruk. Barcelona pulang ke Spanyol dengan tugas berat di leg kedua. Sedangkan, Samuel Eto'o hanya tersenyum melihat Ibrahimovic yang tak berkutik menghadapi barisan pertahanan Inter.

Kepindahan Ibra ke Barcelona diawal musim menambah bumbu dalam drama semifinal waktu itu. Tentu, Ibra ingin merasakan gelar Eropa bersama Barca. Suatu hal yang ia rasa sulit diraih jika masih berseragam Inter Milan. Namun, Gunung Eyjafjallajokull berkehendak lain. Ibra harus merasakan kekalahan menyakitkan dihadapan publik yang dulu mengelu-elukan namanya. Apakah Zlatan menyesal? Tak ada yang tahu. Yang pasti, Samuel Eto'o sudah bersiap mengangkat gelar UCL ketiganya-2 sebelumnya diraih bersama Los Cules.
Leg Kedua Penuh Kontroversi
Pertandingan leg kedua di Nou Camp menyita perhatian publik. Samuel Eto'o sudah siap membuktikan kepada fans Barca, terutama kepada Pep Guardiola, yang 'membuang' dia ke Kota Milan. Tapi para pengamat sudah memprediksi, Mourinho diprediksi 'memarkirkan' bus mereka didepan gawang Julio Cesar. Hal itu tercermin dalam jalannya pertandingan. Diego Milito dan kawan-kawan sepertinya enggan untuk menyentuh bola. Statistik menunjukkan penguasaan bola Barcelona mencapai 86 persen! La Beneamata bahkan tak melesakkan satupun tendangan yang mengarah ke gawang yang dikawal Victor Valdes. Inter Milan bertarung mati-matian mempertahankan keunggulan yang dibawa dari Italia. Mereka bak gladiator Romawi yang siap menerkam siapa saja yang mendekati gawang Julio Cesar.
Peluit panjang di tengah lapangan Nou Camp menandai usainya pertandingan leg kedua. Tapi, kontroversi tak berakhir disitu saja. Siapa yang lupa akan selebrasi kontroversial Jose Mourinho. Setelah peluit panjang ditiup wasit, Mourinho melakukan selebrasi didepan pendukung Barcelona. Valdes dan pemain Barca lainnya tak terima. Namun, Mourinho tak peduli. Ia mengepalkan tangannya menandakan bahwa The Special One merayakan tunduknya taktik tiki-taka ditangannya. Tak salah memang. Inter akhirnya berhasil menjuarai Liga Champions musim 2009/2010 setelah mengalahkan Bayern Munchen 2-0 di Estadio Santiago Bernabeu.
Balas Dendam Barcelona?
Ini merupakan kali kedua Barca dan Inter bertemu dibabak knock-out Liga Champions. Pada babak grup, Inter dan Barca cukup rutin bertemu beberapa musim terakhir. Tercatat, sejak musim 2009/2010, Inter dan Barca sudah 3 kali berada pada grup yang sama (format Liga Champions lama). Hasilnya dari 6 kali pertemuan di fase grup, Inter hanya bisa meraih kemenangan satu kali, yakni pada musim 2022/2023. Sedangkan Barca berhasil meraih 4 kemenangan dan sisanya berakhir imbang. Kemenangan Barca atas Inter terakhir kali terjadi sebelum pandemi Covid terjadi. Saat itu, Ansu Fati berhasil mencetak gol kemenangan dihadapan penggemar Inter Milan.
Situasi pada babak gugur jelas berbeda dibandingkan babak fase grup. Pada saat ini, kemenangan bagi kedua tim merupakan hal yang tak bisa ditawar. Seluruh tenaga akan dikerahkan oleh kedua tim. Terutama bagi Barcelona, gelar Liga Champions akan sangat penting demi misi treble winner untuk ketiga kalinya. Sedangkan bagi Inter Milan, gelar Liga Champions akan memangkas selisih tropi UCL dengan rival sekota, AC Milan, yang memiliki 7 gelar.
Pertemuan kali ini akan menjadi sangat berarti bagi Barcelona. Terlebih, ini merupakan kesempatan bagi Blaugrana untuk membalaskan dendam 15 tahun silam. Kali ini, tak ada letusan gunung berapi yang terlibat. Akan tetapi, Estadio Olimpic Lluis Companys dan Estadio Giuseppe Meazza sudah siap mementaskan 'ledakan' tensi antar kedua tim.
Lewandowski Absen?
Barca kemungkinan menjalani laga semifinal ini tanpa kehadiran striker utama, Robert Lewandowski. Berdasarkan laporan Mundo Deportivo, Lewandowski dipastikan absen pada pertandingan Final Copa del Rey vs. Real Madrid dan diragukan tampil pada laga semifinal Liga Champions menghadapi Inter beberapa hari kemudian. Lewandowski mengalami cedera pada saat Barcelona menghadapi Celta Vigo di La Liga. Berita ini merupakan pukulan telak bagi pasukan Hansi Flick. Keberadaan striker Polandia ini sangat penting bagi skema serangan yang dimiliki Barcelona. Lewandowski selalu tampil sebagai starting eleven diajang Liga Champions. Ia berhasil mencetak 11 gol dari 12 pertandingan.
Kemungkinan absennya Lewy menambah masalah baru bagi Hansi Flick. Sebelumnya, pelatih asal Jerman ini harus kehilangan Balde setelah mengalami cedera di pertandingan La Liga. Absennya pemain utama menjadi ujian bagi kedalaman skuad Barcelona. Dani Olmo yang didatangkan dari Liga Jerman diharapkan mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Robert Lewandowski.
Prediksi Pertandingan
Kedua tim dihadapkan pada situasi yang cukup mirip. Barca dan Inter masih memimpin klasemen di liga domestik masing-masing. Barca unggul 4 poin dari Real Madrid, sedangkan Inter tak memiliki jarak dengan Napoli yang duduk diperingkat kedua. Selain itu, Barca dan Inter masih harus menghadapi rival domestiknya di Piala Domestik masing-masing. Barca harus bertarung di Final Copa del Rey menghadapi Real Madrid, sedangkan Inter masih harus menghadapi AC Milan dibabak semifinal Copa Italia. Artinya, kedua tim masih memiliki kans untuk menyabet tiga gelar sekaligus.
Kedua juru taktik akan memutar otak sekencang mungkin demi bisa mendapatkan hasil maksimal pada semua kompetisi. Tipe permainan kedua tim yang cukup mirip akan membuat pertandingan tak dapat diprediksi. Kesalahan-kesalahan minor akan menentukan jalannya pertandingan. Terlebih lagi, kedua tim dihadapkan dengan jadwal yang padat. Tentu saja, sebagai fans Barcelona, tak ada salahnya berharap Inter kali ini yang merasakan efek 'letusan Gunung Eyjafjallajokull'.