-->

False Number Ten

who facilitates the work of the false nine and operates in tandem with him to destabilise opposition defences

BARCA CAMPEONES 2025

Barca berhasil memenuhi ekspektasi para penggemarnya. Skuad Hansi Flick benar-benar menjadi mimpi buruk bagi Kylian Mbappe cs. Untuk ketiga kalinya dalam musim ini, Barca mengalahkan Madrid dengan skor 3-2. Hasil ini sekaligus membawa Barcelona menjuarai Copa del Rey untuk yang ke-32 kalinya. Kemenangan ini juga mengukuhkan dominasi Barca atas Real Madrid musim ini. Total dari 3 El Classico terakhir, Barca berhasil menyarangkan 12 gol ke gawang Los Blancos dan hanya kebobolan 3 gol. Kemenangan ini juga membuat jalan Barcelona menuju treble-winner semakin dekat.

Estadio de La Cartuja menjadi saksi pertarungan epik yang disajikan pemain dari kedua tim. El Classico memang tak pernah gagal menyajikan pertandingan yang seru. Hingga peluit akhir ditiup, penonton disuguhkan teknik kelas tinggi, taktik berkelas, hingga ketegangan antar pemain. Gol Kounde dimenit 116 menjadi penentu dalam pertandingan ini. Drama lembar es yang dilakukan Antonio Rudiger diakhir pertandingan menunjukkan betapa tingginya tensi pertandingan.

Barca Mendominasi Pertandingan

Ancelotti memberikan kejutan kepada Barca dengan tidak menurunkan Kylian Mbappe sejak awal pertandingan. Sedangkan Barcelona menurunkan skuad terbaiknya. Ferran Torres menjadi ujung tombak serangan menggantikan Lewandowski yang cedera. Sedangkan Vini dan Rodrygo menjadi duet di lini depan Real Madrid. Jude Bellingham diharapkan menjadi goal-getter dengan serangan dari lini kedua.

Barca mendominasi pertandingan sejak awal. Ini ditunjukkan dengan dominasi pada penguasaan bola (59 - 41). Dominasi Barca juga ditunjukkan melalui jumlah peluang. Barca berhasil melepaskan 22 tendangan, 9 diantaranya tepat sasaran. Sedangkan Madrid baru memberikan ancaman ketika Mbappe masuk diawal babak kedua.

Satu Langkah Semakin Dekat dengan Treble-Winner

Kemenangan ini menjadi sangat spesial bagi Hansi Flick karena ini menjaga rekornya di final. Tercatat, Flick tak pernah kalah jika sudah mentas di partai puncak sejak menjadi juru taktik. Selain itu, Piala Copa del Rey yang diraih pasukan Blaugrana menjadi target pertama yang dicapai untuk meraih Treble-Winner. Sekarang, Barca tinggal menjaga jarak dari Real Madrid di La Liga dan melewati tantangan Inter Milan di semifinal Liga Champions.

PREVIEW FINAL COPA DEL REY 2025

Barcelona memiliki misi mulia dalam menghadapi Real Madrid pada Final Copa Del Rey, pada 27 April 2025 waktu setempat. Hansi Flick ingin menunjukkan dominasi total atas Real Madrid di musim ini. Setelah meraih dua kemenangan telak dalam dua pertemuan terakhir, skuad asuhan Hansi Flick tentu tak ingin dominasi tersebut berakhir. Disisi lain, Real Madrid tentu ingin membalaskan dendam di Piala Super Spanyol. Terlebih, kemenangan akan menjadi kado perpisahan manis bagi Ancelotti yang diisukan akan hengkang pasca laga final menghadapi Barca.


Perseteruan Real Madrid dan Barcelona kembali terjadi di ajang partai puncak Piala Raja Spanyol. Dua rival abadi ini akan memperebutkan tahta puncak Piala Raja Spanyol di Estadio La Cartuja de Sevilla. Ini merupakan El Classico jilid ketiga pada musim 2024/2025. Dua El Classico sebelumnya menjadi panggung bagi Barcelona untuk mempermalukan Kylian Mbappe cs. Laga pertama di Estadio Santiago Bernabeu pada lanjutan La Liga, Barcelona berhasil membuat Real Madrid gigit jari dengan menyarangkan 4 gol tanpa mampu dibalas oleh penyerang Real Madrid. Sedangkan, El Classico jilid kedua dipentaskan pada ajang Piala Super Spanyol. Los Blancos lagi-lagi dipermalukan dengan skor 2-5.

final copa del rey 2025

Dominasi Barca atas Madrid pada musim ini tak menjadi jaminan kemenangan bagi Azulgrana. Vinicius tentu tak mau terus dipermalukan oleh Barcelona. Terlebih lagi, gelar Copa del Rey bisa menjadi pelipur lara bagi Real Madrid yang baru saja disingkirkan Arsenal diajang Liga Champions. Apalagi, Madrid memiliki rekor yang sedikit lebih baik jika berhadapan dengan Barcelona di Final Copa Del Rey. El Classico sudah mentas sebanyak 7 kali di Final Copa Del Rey. Hasilnya, Los Blancos berhasil menang 4 kali, sedangkan sisanya menjadi milik Barcelona. Selain itu, 2 final El Classico terakhir berhasil dimenangkan oleh Real Madrid.

Daftar Pertemuan Real Madrid dan Barcelona di Final Copa del Rey
Tahun Pertemuan Pemenang Skor Akhir Runner-up Venue Final
1936 Real Madrid 2–1 Barcelona Mestalla, Valencia
1968 Barcelona 1–0 Real Madrid Santiago Bernabéu, Madrid
1974 Real Madrid 4–0 Barcelona Vicente Calderón, Madrid
1983 Barcelona 2–1 Real Madrid La Romareda, Zaragoza
1990 Barcelona 2–0 Real Madrid Mestalla, Valencia
2011 Real Madrid 1–0 (aet) Barcelona Mestalla, Valencia
2014 Real Madrid 2–1 Barcelona Mestalla, Valencia

Barcelona sedikit diunggulkan pada pertandingan final kali ini. Hal ini tak lepas dari performa yang ditunjukkan anak asuh Hansi Flick. Keberhasilan Barcelona lolos ke semifinal Liga Champions menambah rasa percaya diri Lamine Yamal cs. Apalagi, kemenangan atas Real Madrid akan mendekatkan Los Cules meraih tri-gelar ketiga sepanjang sejarah klub.

Meskipun demikian, Barca menyongsong final kali ini dengan perasaan harap-harap cemas. Striker andalan klub Catalan ini, Robert Lewandowski, harus absen di laga kontra Real Madrid. Tak hanya itu, Lewandowski juga dikhawatirkan tak dapat tampil pada babak semifinal Liga Champions kontra Inter Milan. Sebuah keuntungan bagi Real Madrid. Apalagi, Lewandowski berhasil mencetak 3 gol dalam 2 pertandingan terakhir kontra La Real.

Hansi Flick harus segera menemukan jawaban atas cedera yang dialami Lewy. Terlebih, skuad Barcelona sudah mulai menunjukkan kelemahannya dalam beberapa pertandingan terakhir. Jangan sampai, kejadian di Signal Iduna Park saat menghadapi Dortmund terulang kembali. Barca harus segera bangkit dan kembali ke jalur yang benar demi raihan tri-gelar.

Real Madrid juga bukan tanpa masalah. Tersingkir di Liga Champions membuat masa depan Ancelotti di Bernabeu dipertanyakan. Florentino Perez dikabarkan sudah siap berpisah dengan Don Carlo pasca laga menghadapi Barca, terlepas dari hasil final tersebut. Ancelotti dianggap tak mampu menemukan solusi atas buntunya permainan Real Madrid beberapa bulan terakhir. Apalagi, kedatangan Kylian Mbappe tak mampu mengangkat performa lini serang Los Blancos.

Pertandingan El Classico akan selalu menarik perhatian pecinta sepakbola. Setelah berakhirnya era Messi-Ronaldo, daya tarik El Classico memang sedikit menurun. Akan tetapi, gairah tersebut kembali meningkat beberapa musim terakhir. Apalagi kemunculan Lamine Yamal di Barca seperti ditakdirkan untuk mengimbangi kedatangan mega bintang Kylian Mbappe di Santiago Bernabeu.

Taktik kedua tim sepertinya tidak akan banyak berubah dibandingkan pertemuan terakhir. Hansi Flick kemungkinan besar masih akan memainkan garis pertahanan tinggi sembari memasang jebakan offside. Sementara itu, lini serang Madrid akan berusaha mengeksploitasi tingginya garis pertahanan Blaugrana sembari berharap bisa lolos dari jebakan offside. Ketiadaan Lewandowski sepertinya akan sedikit mengubah pola serangan Barca. Namun, Lamine dan Rapinha akan tetap mengisi sisi sayap Barcelona.

Pecinta sepakbola mengharapkan pertandingan yang menarik dan menghibur untuk ditonton. Ditengah situasi dunia yang carut marut, kehadiran El Classico diharapkan mampu memberikan hiburan tersendiri. Apalagi, ini merupakan final El Classico Copa del Rey pertama setelah 10 tahun. Dan tentu saja, final El Classico di Copa del Rey selalu menyajikan momen-momen ikonik yang akan dikenang oleh seluruh pecinta sepakbola.

PREVIEW BARCA VS INTER MILAN: REUNI GUNUNG BERAPI EYJAFJALLAJöKULL

Tandukan Eric Dier tak mampu menyingkirkan Inter Milan yang bermain dihadapan publik Gueseppe Meazza. Sepasang gol dari mantan pemain Spurs, Harry Kane dan Dier, mampu dibalas oleh Lautaro Martinez dan Benjamin Pavard. Simeone Inzaghi kembali membuktikan kapabilitasnya di pentas Eropa. Mengantarkan Inter Milan ke babak semi final kompetisi paling akbar seantero Eropa. Hasil ini membuat pertemuan Inter vs Barca tak terhindarkan. Memori publik langsung mundur ke masa 15 tahun lalu. Terakhir kali Barca dan Inter bertemu di babak semi final, banyak drama tercipta. Akan kah terulang?


Pertemuan Barca dan Inter dibabak semifinal Liga Champions musim 2024/2025 memunculkan kenangan buruk bagi sebagian besar fans Barcelona. Lima belas tahun lalu, yaitu pada musim 2009/2010, Barca bertemu dengan Inter di babak semifinal UCL. La Blaugrana yang saat itu diperkuat Zlatan Ibrahimovic memang lebih diunggulkan dibandingkan skuad asuhan Jose Mourinho. Bagaimana tidak, musim sebelumnya, yaitu 2008/2009, Barcelona berhasil menggondol seluruh gelar dari setiap kompetisi yang diikuti. Namun, keunggulan tersebut tak tampak diatas lapangan. Bahkan, sebelum pertandingan leg pertama dimulai, Barcelona sudah dilanda cobaan.

barca vs inter tahun 2010

Uniknya, alam pun seperti ingin ikut campur dalam pertempuran kedua klub kala itu. Tepat beberapa hari sebelum pertandingan leg pertama di Giuseppe Meazza dilakonkan, salah satu gunung berapi di Eropa meletus dan membuat rute penerbangan di benua Eropa terganggu. Akibatnya, pasukan Pep Guardiola terpaksa menempuh jalur darat dari Barcelona menuju kota mode, Milan. Waktu perjalanan yang seharusnya hanya 1 atau 2 jam menjadi 9 sampai 13 jam melalui jalur darat. Apa dikata, alam seperti berpihak kepada Inter.

Leg pertama di Stadion milik Pemkot Milan berakhir dengan kemenangan Diego Milito cs. Messi dibuat tak berdaya oleh taktik bertahan yang diterapkan oleh The Special One. Gol Pedro Rodriguez di menit 19 hanya menjadi pembuka bagi duka yang akan menimpa Barca. Inter tampil efektif dengan melesakkan 3 gol melalui Sneijder, Maicon, dan Diego Milito. Pep Guardiola terdiam. Letusan gunung berapi di Islandia nyatanya berlanjut di gawang Victor Valdes. Defisit dua gol menghadapi tim yang diasuh oleh Mourinho kala itu adalah mimpi buruk. Barcelona pulang ke Spanyol dengan tugas berat di leg kedua. Sedangkan, Samuel Eto'o hanya tersenyum melihat Ibrahimovic yang tak berkutik menghadapi barisan pertahanan Inter.

gol diego milito vs barcelona tahun 2010

Kepindahan Ibra ke Barcelona diawal musim menambah bumbu dalam drama semifinal waktu itu. Tentu, Ibra ingin merasakan gelar Eropa bersama Barca. Suatu hal yang ia rasa sulit diraih jika masih berseragam Inter Milan. Namun, Gunung Eyjafjallajokull berkehendak lain. Ibra harus merasakan kekalahan menyakitkan dihadapan publik yang dulu mengelu-elukan namanya. Apakah Zlatan menyesal? Tak ada yang tahu. Yang pasti, Samuel Eto'o sudah bersiap mengangkat gelar UCL ketiganya-2 sebelumnya diraih bersama Los Cules.

Leg Kedua Penuh Kontroversi

Pertandingan leg kedua di Nou Camp menyita perhatian publik. Samuel Eto'o sudah siap membuktikan kepada fans Barca, terutama kepada Pep Guardiola, yang 'membuang' dia ke Kota Milan. Tapi para pengamat sudah memprediksi, Mourinho diprediksi 'memarkirkan' bus mereka didepan gawang Julio Cesar. Hal itu tercermin dalam jalannya pertandingan. Diego Milito dan kawan-kawan sepertinya enggan untuk menyentuh bola. Statistik menunjukkan penguasaan bola Barcelona mencapai 86 persen! La Beneamata bahkan tak melesakkan satupun tendangan yang mengarah ke gawang yang dikawal Victor Valdes. Inter Milan bertarung mati-matian mempertahankan keunggulan yang dibawa dari Italia. Mereka bak gladiator Romawi yang siap menerkam siapa saja yang mendekati gawang Julio Cesar.

Peluit panjang di tengah lapangan Nou Camp menandai usainya pertandingan leg kedua. Tapi, kontroversi tak berakhir disitu saja. Siapa yang lupa akan selebrasi kontroversial Jose Mourinho. Setelah peluit panjang ditiup wasit, Mourinho melakukan selebrasi didepan pendukung Barcelona. Valdes dan pemain Barca lainnya tak terima. Namun, Mourinho tak peduli. Ia mengepalkan tangannya menandakan bahwa The Special One merayakan tunduknya taktik tiki-taka ditangannya. Tak salah memang. Inter akhirnya berhasil menjuarai Liga Champions musim 2009/2010 setelah mengalahkan Bayern Munchen 2-0 di Estadio Santiago Bernabeu.

Balas Dendam Barcelona?

Ini merupakan kali kedua Barca dan Inter bertemu dibabak knock-out Liga Champions. Pada babak grup, Inter dan Barca cukup rutin bertemu beberapa musim terakhir. Tercatat, sejak musim 2009/2010, Inter dan Barca sudah 3 kali berada pada grup yang sama (format Liga Champions lama). Hasilnya dari 6 kali pertemuan di fase grup, Inter hanya bisa meraih kemenangan satu kali, yakni pada musim 2022/2023. Sedangkan Barca berhasil meraih 4 kemenangan dan sisanya berakhir imbang. Kemenangan Barca atas Inter terakhir kali terjadi sebelum pandemi Covid terjadi. Saat itu, Ansu Fati berhasil mencetak gol kemenangan dihadapan penggemar Inter Milan.

Situasi pada babak gugur jelas berbeda dibandingkan babak fase grup. Pada saat ini, kemenangan bagi kedua tim merupakan hal yang tak bisa ditawar. Seluruh tenaga akan dikerahkan oleh kedua tim. Terutama bagi Barcelona, gelar Liga Champions akan sangat penting demi misi treble winner untuk ketiga kalinya. Sedangkan bagi Inter Milan, gelar Liga Champions akan memangkas selisih tropi UCL dengan rival sekota, AC Milan, yang memiliki 7 gelar.

Pertemuan kali ini akan menjadi sangat berarti bagi Barcelona. Terlebih, ini merupakan kesempatan bagi Blaugrana untuk membalaskan dendam 15 tahun silam. Kali ini, tak ada letusan gunung berapi yang terlibat. Akan tetapi, Estadio Olimpic Lluis Companys dan Estadio Giuseppe Meazza sudah siap mementaskan 'ledakan' tensi antar kedua tim.

Lewandowski Absen?

Barca kemungkinan menjalani laga semifinal ini tanpa kehadiran striker utama, Robert Lewandowski. Berdasarkan laporan Mundo Deportivo, Lewandowski dipastikan absen pada pertandingan Final Copa del Rey vs. Real Madrid dan diragukan tampil pada laga semifinal Liga Champions menghadapi Inter beberapa hari kemudian. Lewandowski mengalami cedera pada saat Barcelona menghadapi Celta Vigo di La Liga. Berita ini merupakan pukulan telak bagi pasukan Hansi Flick. Keberadaan striker Polandia ini sangat penting bagi skema serangan yang dimiliki Barcelona. Lewandowski selalu tampil sebagai starting eleven diajang Liga Champions. Ia berhasil mencetak 11 gol dari 12 pertandingan.

Kemungkinan absennya Lewy menambah masalah baru bagi Hansi Flick. Sebelumnya, pelatih asal Jerman ini harus kehilangan Balde setelah mengalami cedera di pertandingan La Liga. Absennya pemain utama menjadi ujian bagi kedalaman skuad Barcelona. Dani Olmo yang didatangkan dari Liga Jerman diharapkan mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Robert Lewandowski.

Prediksi Pertandingan

Kedua tim dihadapkan pada situasi yang cukup mirip. Barca dan Inter masih memimpin klasemen di liga domestik masing-masing. Barca unggul 4 poin dari Real Madrid, sedangkan Inter tak memiliki jarak dengan Napoli yang duduk diperingkat kedua. Selain itu, Barca dan Inter masih harus menghadapi rival domestiknya di Piala Domestik masing-masing. Barca harus bertarung di Final Copa del Rey menghadapi Real Madrid, sedangkan Inter masih harus menghadapi AC Milan dibabak semifinal Copa Italia. Artinya, kedua tim masih memiliki kans untuk menyabet tiga gelar sekaligus.

Kedua juru taktik akan memutar otak sekencang mungkin demi bisa mendapatkan hasil maksimal pada semua kompetisi. Tipe permainan kedua tim yang cukup mirip akan membuat pertandingan tak dapat diprediksi. Kesalahan-kesalahan minor akan menentukan jalannya pertandingan. Terlebih lagi, kedua tim dihadapkan dengan jadwal yang padat. Tentu saja, sebagai fans Barcelona, tak ada salahnya berharap Inter kali ini yang merasakan efek 'letusan Gunung Eyjafjallajokull'.

POST MATCH DORTMUND VS BARCA: BAHAN MUHASABAH DIRI

Setelah absen hampir satu windu, Barca kembali menapakkan kakinya di babak semifinal Liga Champions. Barca terakhir kali mencapai semifinal pada musim 2018/2019, dimana Messi cs. tersingkir secara menyakitkan oleh Liverpool dengan agregat 3-4. Sekarang, Hansi Flick berhasil membawa Barca ke semifinal UCL. Akankah tragedi 2018/2019 terulang, atau Lamine Yamal berhasil mencetak sejarah baru bagi Barca?


Setelah mengantongi kemenangan besar pada leg pertama, Barcelona tampil dengan pendekatan yang lebih pragmatis dibandingkan leg pertama. Barca lebih fokus menjaga struktur pertahanan sambil memanfaatkan serangan balik melalui trio Raphinha-Lewandowski-Yamal. Ketiadaan Pedri di lini tengah digantikan oleh duet Gavi dan F. de Jong.

Kekalahan Pertama Tahun 2025

Pasukan Catalan akhirnya merasakan kekalahan pertamanya di tahun 2025. Kekalahan ini memutuskan rentetan 23 pertandingan tak terkalahkan selama tahun 2025. Sebelumnya, Barca berhasil melibas lawan-lawannya, termasuk kemenangan besar 4-1 atas Bayern Munchen, serta kemenangan atas Real Madrid di final Supercopa de Espana pada Januari lalu. Untungnya, kekalahan tak menghalangi langkah La Blaugrana ke semifinal Liga Champion. Sekaligus, kekalahan ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi Barcelona dalam menghadapi babak semifinal Liga Champions.

line-up-barca-vs-dortmund
Bermain Lebih Pragmatis

Hansi Flick memilih bermain lebih pragmatis dibandingkan leg pertama. Para pemain dibuat lebih fokus pada pengendalian permainan dan pertahanan. Meski turun hampir dengan kekuatan utama, tapi Hansi Flick mengistirahatkan Pedri dari lini tengah. Ketiadaan Pedri membuat Barca kekurangan kontrol di lini tengah dan menurunkan agresivitas serangan Blaugrana.

Keputusan Hansi Flick untuk bermain pragmatis dimanfaatkan dengan baik oleh Dortmund. Die Borussen tampil agresif sejak awal laga. Dengan bantuan atmosfer Signal Iduna Park, Dortmund berhasil unggul lebih dahulu memanfaatkan kesalahan Szczesny yang melanggar Guirassy di kotak terlarang. Guirassy sukses mengeksekusi penalti dengan gaya Panenka dan kembali mencetak gol pada menit ke 49. Gol tersebut sempat membuat harapan Dortmund melambung tinggi. Namun, gol bunuh diri Ramy Bensebaini pada menit ke 54 membuat Barca mengembalikan keunggulan agregat 3 gol. Hattrick yang dicetak Guirassy pada menit ke 76 tak mampu mengantarkan Dortmund ke semifinal.

Bahan Muhasabah Diri

Kekalahan Barcelona datang di saat yang ideal. Meskipun mengakhiri rekor tak terkalahkan mereka di 2025, kekalahan ini bisa menjadi peluang untuk mengevaluasi performa tim. Hansi Flick perlu merancang strategi untuk menjaga mental pemain, terutama dengan jadwal padat yang menanti dalam beberapa minggu ke depan. Kekalahan dari Borussia Dortmund menjadi bahan muhasabah diri bagi Barcelona, khususnya dalam hal organisasi pertahanan dan intensitas di laga tandang. Cedera pemain kunci seperti Alejandro Balde dan absennya Dani Olmo memperlihatkan kerentanan skuad, mendorong Flick untuk mengoptimalkan kedalaman tim. Dengan final Copa del Rey melawan Real Madrid dan semifinal Liga Champions di depan mata, kekalahan ini harus dijadikan momentum untuk memperbaiki kelemahan, memastikan Barcelona tetap kompetitif di semua kompetisi.

Secara psikologis, kekalahan ini bisa menjadi titik balik bagi Barcelona, baik positif maupun negatif. Di satu sisi, kekalahan ini bisa menyadarkan tim bahwa mereka tidak tak terkalahkan, mendorong mereka untuk bekerja lebih keras. Di sisi lain, jika tidak dikelola dengan baik, kekalahan ini bisa mengganggu kepercayaan diri menjelang laga-laga besar. Flick, dengan pengalamannya memenangkan treble bersama Bayern Munchen, memiliki peran penting untuk menjaga semangat tim. Dalam wawancara pasca-pertandingan, ia menekankan bahwa timnya tetap fokus pada tujuan besar, yaitu meraih trofi di La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions.

Jadwal padat dalam beberapa minggu ke depan akan menjadi ujian sejati. Setelah kekalahan dari Dortmund, Barcelona akan menghadapi Celta Vigo (19 April), Mallorca (22 April), dan final Copa del Rey melawan Real Madrid (26 April). Di La Liga, mereka masih memimpin dengan tujuh poin atas Real Madrid, tetapi setiap kesalahan bisa mempersempit jarak tersebut. Di Liga Champions, semifinal melawan Inter Milan atau Bayern Munchen akan menuntut performa puncak. Flick perlu memastikan rotasi yang seimbang untuk menghindari kelelahan, sambil memanfaatkan kekalahan dari Dortmund sebagai bahan pembelajaran untuk meningkatkan disiplin taktis.

POST MATCH VALENCIA VS BARCA: TANDA TANYA ABSENNYA GUNDOGAN

Selamat datang, La Liga. Barcelona memulai perjalanan La Liga dengan cukup baik. Raihan 3 poin di Mestalla menjadi sangat berarti, terlebih Hansi Flick memainkan beberapa pemain muda. Surprisingly, para pemain muda ini dapat tampil dengan baik. Sekali lagi, buruknya manajemen Barca diselamatkan oleh briliannya lulusan La Masia. Tapi mau berharap sama pemain muda?

Kita pasti ingin memulai setiap fase hidup dengan baik. Saat memasuki sekolah, kita pasti ingin memulai dengan kesan yang baik. Hal itu yang sedang dicari oleh Barcelona. Memulai fase baru bersama Hansi Flick, Barca dihadapkan dengan laga tandang menghadapi Valencia. Barca memasuki pertandingan ini dengan situasi yang tidak cukup baik. Kekalahan di Joan Gamper Throphy menimbulkan keraguan terhadap skuad Barcelona.

Keraguan tersebut berhasil dijawab dengan baik oleh skuad Barca. Hansi Flick menurunkan 3 pemain yang berusia 17 tahun. Bahkan Valencia pun bingung, jangan-jangan mereka menghadapi Barcelona U-20. Untung saja Barca bisa memenangkan pertandingan ini. Robert Lewandowski berhasil mencetak dua gol dan menjadi Man Of The Match.

Pertandingan berjalan cukup sengit. Barca berhasil mendominasi penguasaan bola dan beberapa kali mengancam gawang Mamardashvili. Total ada 18 percobaan yang dilepaskan pemain Barca, berbanding 6 milik Valencia. Blaugrana berhasil mencetak 6 tendangan tepat sasaran berbanding 2 milik Valencia. Barca juga diselamatkan oleh last line cleareance yang dilakukan oleh Cubarsi. Secara keseluruhan, pertandingan ini menjadi pertanda bagi Barca untuk terus melakukan pembenahan terhadap permainannya.

Absennya Gundogan menjadi tanda tanya bagi para fans Barcelona. Ada rumor yang menyebutkan bahwa Gundogan akan segera meninggalkan Barca sebelum jendela transfer ditutup. Kepergian Gundogan pasti akan sangat merugikan Los Cules. Apalagi, stok gelandang Barcelona cukup tipis. Hanya ada beberapa pemain muda yang mengisi slot lini tengah. Bahkan, pada pertandingan dini hari tadi, Hansi Flick hanya menurunkan dua pemain akademi, yakni Bernal dan Casado. Dua pemain ini masih sangat muda, bahkan Marc Bernal masih berusia 17 tahun. Tentu akan sangat riskan jika hanya bergantung kepada para pemain akademi, terlebih pengalaman mereka masih sangat minim.

Manajemen Barca sebaiknya memastikan Gundogan tetap bertahan di Barcelona. Para pemain muda Barca masih membutuhkan bimbingan dari para pemain senior. Keberhasilan mengalahkan Valencia seharusnya membuat manajemen melihat masa depan yang cerah bagi para pemain muda ini. Namun, Barca tetap membutuhkan pemain senior untuk membentuk mental para pemain muda.

BADMINTON TANPA EMAS (LAGI)

BADMINTON TANPA EMAS (LAGI)

Perjuangan Gregoria Mariska Tunjung akhirnya harus kandas di babak semifinal tunggal putri Olimpiade 2024. Tunggal putri yang kerap disapa Jorji ini harus takluk dari An Se-young yang berasal dari Korea Selatan. Kontingen badminton Indonesia harus puas pulang tanpa medali emas pada perhelatan Olimpiade kali ini, mengulangi cerita di Olimpiade London 2012 yang lalu.

An Se-young dan Jorji pasca pertandingan semifinal Olimpiade di Paris 2024

Kontingen badminton Indonesia harus berpuas diri mengakhiri Olimpiade Paris 2024 dengan raihan 1 perunggu. Satu-satunya medali Indonesia datang dari sektor tunggal putri. Gregoria Mariska Tunjung "dihadiahi" medali perunggu setelah calon lawannya diperebutan tempat ketiga mengalami cedera dan dinyatakan tak dapat bertanding. Carolina Marin mengalami cedera di babak semifinal dan tak mampu bertanding pada perebutan tempat ketiga.

Pada sektor lain, wakil Indonesia tak mampu berbicara banyak. Sektor ganda putra yang diharapkan mampu menyumbang medali harus gugur dibabak 8 besar. Fajar/Rian harus mengakui keunggulan ganda putra China, W.K. Liang/C. Wang dua set langsung, 24-22 dan 22-20. Sektor tunggal putra malah lebih mengenaskan, kedua atlet Indonesia pada sektor ini bahkan tak mampu lolos dari fase grup, pertama kali sejak format grup diperkenalkan di Olimpiade. Sektor ganda putri dan ganda campuran juga tak mampu melangkah jauh. Nasibnya sama dengan sektor tunggal putra yang terhenti dibabak fase grup.

Pukulan telak bagi dunia bulutangkis tanah air. Salah satu cabor yang menjadi andalan Indonesia untuk meraih medali malah gagal total. Ini melanjutkan catatan buruk badminton pada ajang multi-event. Sebelumnya, pada Asian Games Hangzhou 2023, Indonesia sama sekali tak meraih medali pada sektor badminton. Sebuah noda hitam bagi dunia bulutangkis Indonesia. Publik dibuat kecewa dengan kepengurusan PBSI. Para pengurus dianggap tak kompeten dalam mempersiapkan atlet Pelatnas untuk bersaing di ajang yang bergengsi. Tak hanya itu, PBSI saat ini dianggap membawa prestasi bulutangkis Indonesia memasuki masa kegelapannya.

Kondisi carut marutnya manajemen PBSI saat ini sebenarnya sudah tercium ketika Kevin Sanjaya merasa 'dipaksa' untuk berhenti dari badminton. Pada sebuah unggahan di Instagram, Kevin Sanjaya mengungkapkan bahwa PBSI menggantungkan nasibnya dan tak segera mencarikan pasangan bagi Kevin. Situasi tersebut membuat Kevin merasa tak dipedulikan sehingga memutuskan untuk pensiun di usia yang masih sangat muda. Netizen murka terhadap federasi dan meminta para pengurusnya untuk mundur.

Sepertinya para pejabat di Indonesia memang sudah kehilangan urat malu. Setelah prestasi dan manajemen yang carut marut tak membuat Ketua Umum PBSI, Agung Firman Sampurna bersedia mengundurkan diri. Ia beranggapan bahwa pengunduran diri sama saja menyerah. Tolol emang. Prestasi hancur pada dua ajang secara berturut-turut tak membuat Bapak Agung ini menjadi tau malu.

Sudahlah, Pak. Dengan segala hormat, mewakili seluruh pecinta bulutangkis di Indonesia. Tolong mundur. Berikan kepada orang yang kompeten dan memang mencintai bulutangkis. Kami para penikmat bulutangkis sudah muak dengan kepengurusan PBSI. Jangan menjadikan olahraga ini sebagai batu loncatan untuk karir yang lebih tinggi. Kalau Bapak tak mencintai bulutangkis, jangan pura-pura menyukainya. Jangan sampai anak-anak Indonesia tak bisa lagi bangga dengan prestasi atlet kita.

Untuk para atlet Indonesia, khususnya atlet badminton. Terima kasih atas perjuangan kalian. Kami tau bahwa kalian pasti lebih terpukul dibandingkan kami. Kami tau kalian telah berjuang dengan maksimal. Terima kasih. Teruslah berjuang. Kami akan terus mendampingi perjuangan kalian. Kami akan terus menyuarakan perbaikan PBSI. Kami tau, perjuangan kalian akan lebih terbantu dengan federasi yang lebih baik.

EKSPEKTASI TERHADAP HANSI FLICK

EKSPEKTASI TERHADAP HANSI FLICK

"Hidup harus penuh dengan optimisme. Seberat apapun cobaan yang menghadang, pasti akan ada harapan. Badai pasti berlalu". Begitulah kira-kira kata para motivator. Mungkin kata-kata itu yang harus dipegang oleh fans Barcelona belakangan ini. Apalagi, musim lalu dilalui tanpa raihan apapun. Bahkan di laga El Classico, Barca tak berkutik dihadapan Real Madrid dengan menelan 4 kekalahan dalam 4 pertemuan terakhir di pertandingan resmi.

Sejujurnya, Hansi Flick masih memberikan trauma tersendiri bagi saya pribadi. Kenangan kekalahan 2-8 dengan Bayern Muenchen menghancurkan harapan dan kesenangan saya dalam menonton bola. Melihat klub kesayangan dibobol 8 kali dalam kurun waktu 90 menit tidaklah mudah. Barca dibuat seperti tim amatir yang mencoba peruntungan melawan klub profesional. Bahkan Lionel Messi tak bisa berbuat banyak dalam pertandingan tersebut. Quique Setién harus didakwa melakukan kriminal dengan taktiknya kala itu.

Tapi trauma tersebut memang harus dilawan, atau setidaknya disembuhkan. Saya lebih trauma melihat kepemimpinan Xavi di Barcelona. Tak selamanya gelandang hebat akan menjadi pelatih hebat. Harapannya, Xavi menjadi suksesor Guardiola untuk menjadi pelatih top dunia setelah menjadi gelandang hebat. Nyatanya, ekspektasi jua yang menghancurkan kita. Xavi seolah produk yang tak lulus tes quality control pada kondisi tekanan tinggi. Barca kerap tampil anti klimaks ketika dihadapkan dengan pertandingan-pertandingan penting. Puncaknya musim ini, dalam pertandingan quarter final menghadapi Paris Saint-Germain, La Blaugrana harus takluk 1-4. Padahal, Barca sudah mengamankan kemenangan pada leg pertama.

Fans Barcelona sudah cukup lama mengalami penderitaan. Kebijakan transfer yang kacau balau hingga pengelolaan keuangan yang tak kompeten berdampak kepada permainan tim. Pergantian Presiden kepada Joan Laporta tak serta merta mengangkat permainan di lapangan. Keterbatasan dana transfer ini juga tak diimbangi dengan kejelian manajemen dalam membeli pemain. Faktanya, kepergian Sergio Busquets masih belum mampu ditambal oleh manajemen. Kedatangan Oriol Romeu tak mampu memenuhi ekspektasi para fans. Sedangkan Frenkie De Jong tak nyaman jika ditempatkan sebagai single-pivot. Akibatnya, serangan lawan kerap tak bisa disaring oleh lini tengah dan langsung berhadapan dengan para pemain bertahan.

Kedatangan Hansi Flick diharapkan mampu membawa angin segar bagi FC Barcelona. Apalagi, Hansi Flick menjadi manajer pertama yang pernah memenangkan UEFA Champions League sebelum melatih Barcelona. Beberapa manajer sebelumnya Barcelona selalu menunjuk orang yang belum berpengalaman. Mulai dari Frank Rijkaard yang bahkan belum pernah memenangkan liga sebelum melatih Barca, hingga Pep Guardiola yang sebelumnya "hanya" melatih tim Barcelona B. Bahkan Xavi Hernandez tak pernah melatih di Eropa sebelum menangani tim utama La Blaugrana. Oleh karena itu, penunjukkan Hansi Flick menjadi langkah serius yang diambil oleh manajemen Barca untuk mengarungi kompetisi yang semakin berat.

Perlu disadari, bahwa kedatangan Hansi Flick tak serta merta akan membuat Barcelona menjuarai Champions League. Materi pemain Barcelona masih jauh dari cukup untuk bersaing di kompetisi Eropa. Namun, setidaknya Hansi Flick bisa memberikan pelajaran mental kepada para pemain muda Barca, agar mereka bisa menghadapi tekanan pada pertandingan penting.

Penunjukan Hansi Flick memang cukup unik. Ia merupakan orang yang bertanggung jawab atas nestapa yang ditanggung oleh Barca pada musim 2019/2020. Sekarang, dia bertugas untuk membalut luka yang ia tancapkan. Pemulihan yang diharapkan terjadi pada era Xavi Hernandez tak kunjung terjadi. Meski berhasil menjuara La Liga pada musim 2022/2023, Xavi tak mampu membawa prestasi serupa pada tingkat Eropa. Hansi Flick yang dikenal dengan taktik positional-nya harus bisa meracik tim ini untuk bersaing tak hanya di liga domestik, namun juga pada tingkat Eropa.

Pe-er pertama Hansi Flick adalah mencari gelandang bertahan yang dapat diandalkan. Praktis, sejak kepergian Sergio Busquets, tak ada yang bisa mengemban tugas tersebut. Oriol Romeu yang diharapkan mampu mengisi lubang tersebut, malah tampil anti klimaks dan kerap menjadi titik lemah permainan Barca. Belakangan ini, Barca kerap dihubungkan dengan beberapa pemain, namun anehnya tak ada satupun yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Malah Nico Williams yang diisukan akan segera mendarat di Camp Nou. Padahal, gelandang bertahan menjadi posisi yang harus segera ditambal. Frenkie de Jong tak bisa diharapkan untuk menjadi single-pivot.

Ekspektasi memang boleh tinggi, namun harus disertai kemampuan untuk menginjak bumi. Talenta muda yang dimiliki oleh Barca memang menjanjikan. Terutama setelah penampilan Lamine Yamal pada Euro 2024 kemarin. Namun, kompetisi liga adalah kompetisi yang panjang. Dibutuhkan konsistensi dan kedalaman pemain. Kedatangan Hansi Flick akan percuma apabila manajemen Barca tak melakukan perekrutan pemain dengan tepat. Tak ada salahnya berguru pada rival abadi dalam hal ini. Real Madrid tak kesulitan untuk melakukan regenerasi pemain. Sedangkan Barca masih mencari siapa pengganti Sergio Busquets. Jadi, apa harapan Anda terhadap Hansi?

POST MATCH COPA AMERICA: ARGENTINA JUARA (LAGI)

Partai final Copa America kali ini cukup unik dan memberikan kesan tersendiri. Sempat ditunda hingga 1 jam lebih akibat kericuhan yang terjadi di luar Hard Rock Stadium. Akhirnya, Argentina berhasil mempertahankan gelar juara Copa America setelah mengandaskan perlawanan Kolombia dan memberikan kekalahan pertama bagi James dkk dalam 29 pertandingan terakhir. Gol Lautaro Martinez pada masa perpanjangan waktu sudah cukup membuat Lionel Messi mengangkat Piala Copa America untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Congrats, Goat!

Kolombia belum mampu menahan keperkasaan Argentina pada partai puncak Copa America 2024. Negara kelahiran Pablo Escobar ini harus takluk dengan skor 0-1 kepada Argentina melalui gol Lautaro Martinez di babak perpanjangan waktu. Selain itu, Kolombia juga gagal memperpanjang rekor tak terkalahkan dalam 28 pertandingan terakhir. Akhir yang manis bagi bagi karir Di Maria di timnas Argentina. Skuad Argentina berhasil memberikan kado perpisahan yang indah bagi Angel Di Maria dalam pertandingan terakhirnya bagi Argentina. Gracias, Di Maria!

Kebanyakan pertandingan sepakbola di Amerika Latin berjalan dengan keras. Begitu juga dengan Final Copa America kali ini. Terhitung 61 tekel yang dilepaskan. 28 percobaan dilakukan oleh Argentina, sedangkan 33 tekel dilakukan skuad Kolombia. Kerasnya pertandingan juga memaksa Lionel Messi harus mengakhiri pertandingan lebih awal. La Pulga harus ditarik keluar lapangan dikarenakan cedera. Messi tampak menangis karena tak mampu melanjutkan pertandingan.

messi memenangkan copa america 2024
Messi mengangkat piala keempatnya bersama Argentina dalam 3 tahun terakhir. 

Semenjak ditangani Lionel Scaloni, Argentina telah berubah menjadi monster yang menakutkan. Tim ini mampu menyesuaikan permainan sesuai dengan taktik lawan. Hal ini kembali terbukti pada pertandingan final ini. Kolombia berhasil mendominasi ball possession 56 persen dan 44 persen bagi Argentina. Namun, James Rodriguez cs tak mampu melepaskan ancaman ke gawang Emi Martinez. Dari total 19 percobaan ke gawang Martinez, hanya 4 yang berhasil mengenai sasaran. Disisi lain, Argentina bermain lebih efektif. Messi cs hanya melepaskan 11 attempts dimana 6 diantaranya tepat sasaran dan berbuah 1 gol melalui kaki Lautaro Martinez.

Argentina seolah sengaja membiarkan Kolombia memegang bola dan baru melakukan pressing ketika para pemain Kolombia memasuki setengah lapangan permainan. Para pemain bertahan Argentina juga sigap dalam mengantisipasi long ball yang dilepaskan para bek Kolombia. Lisandro Martinez tampil luar biasa dengan melakukan 6 clearances dan memblok 2 tendangan dari Kolombia. Partner Lisandro, Cristian Romero juga tampil apik dengan 3 intersep dan 5 kali clearances.

James Rodriguez tetap menjadi aktor utama bagi serangan Kolombia. Mantan pemain AS Monaco ini total melepaskan 3 key passes sebelum akhirnya digantikan pada akhir waktu normal. Setelah James Rodriguez meninggalkan lapangan, maka tak ada lagi kreativitas dalam permainan Kolombia. Praktis mereka hanya mengandalkan set pieces untuk membobol gawang Argentina.

Pergantian pemain yang dilakukan Lionel Scaloni juga tepat dan sesuai dengan kebutuhan permainan. Hilangnya Lionel Messi mengurangi daya gedor dan kreativitas Argentina. Pada pertengahan babak pertama extra time atau menit ke-97, Lionel Scaloni memasukkan Lautaro Martinez, Giovani Lo Celso, dan Leandro Paredes. Uniknya, ketiga pemain tersebut berhasil melakukan kombinasi permainan untuk membobol gawang Kolombia di menit ke-112. Tackling Leandro Paredes berhasil merebut bola dari kaki pemain Kolombia, kemudian dia mengirim umpan kepada Lautaro. Selanjutnya Lautaro melakukan umpan satu dua dengan Lo Celso dan berhasil menaklukkan Camilo Vargas.

Gelar Copa America ini semakin melengkapi karir cemerlang Lionel Messi. Tak terasa sudah 20 tahun sejak debut pertamanya. Kini, Leo telah memenangkan total 45 gelar juara. Setelah mengalami penderitaan yang luar biasa pada tahun 2014 hingga 2016, dimana ia dan timnas Argentian kalah dalam 3 final beruntun. Lionel Messi dipastikan akan semakin menikmati sepakbola disisa karirnya. Terima Kasih, Leo!

Back To Top