Setelah menjalani beberapa pertandingan bersama Barcelona musim ini, Koeman tak kunjung mendapatkan performa yang diharapkan. Kemenangan tipis 1-0 atas Levante membuat Blaugrana hanya mampu mengumpulkan 17 poin dari 11 pertandingan. Klasemen pun menunjukkan bahwa Barcelona masih terpaut 9 poin dari Atletico Madrid dengan jumlah pertandingan yang sama. Kondisi ini membuat para fans dan media mempertanyakan kelayakan Koeman untuk menangani Barcelona. Apakah mempekerjakan Koeman merupakan sebuah kesalahan yang dibuat oleh manajemen Barca?
Koeman dipekerjakan bukan karena kemampuan taktikalnya. Dia bukanlah seorang inovator taktik laiknya Guardiola ataupun Klopp, namun dialah yang dibutuhkan Barcelona saat ini. Sejak 2017, Barcelona telah memiliki 2 manajer, Valverde dan Setien. Keduanya memiliki kesamaan dalam hal kepemimpinan diruang ganti meskipun memiliki pendekatan taktik yang sangat berbeda. Setien dan Velverde memiliki pendekatan yang cukup lunak dan memberikan kebebasan dalam pendekatannya kepada skuad Barca.
Pendekatan yang dilakukan Valverde (dan Setien) cukup berhasil hingga pertengahan 2019. Setidaknya berhasil di kompetisi domestik, dimana mereka dapat memenangkan La Liga dan kompetisi domestik lainnya. Pemain seperti Suarez, Messi, Alba, Pique, dan Busquet menampilkan performa yang cukup mengesankan.
Akan tetapi, cara Valverde manangani pemain menjadi bermasalah ketika berkiprah di kancah Champions League. Penampilan Barca sangat memalukan di Champions League. La Blaugrana dua kali menyia-nyiakan keunggulan mereka pada leg pertama. Valverde gagal memotivasi pemain dan gagal meyakinkan pemain untuk mempercayainya. Setelah kejadian di Olimpico, Roma, menjadi lebih berat bagi pemain untuk bermain dengan percaya diri. Hal itu mengakibatkan Barca bermain secara tidak maksimal dan seperti tanpa pemimpin ditengah lapangan. Bahkan, saat ketinggalan 1-0 di Anfield pada musim 2018/2019, para pemain senior seperti Alba dan Pique menyatakan rasa traumanya dan takut kejadian di Roma akan terulang kembali. Kita tahu bagaimana malam itu berakhir.
| Kekalahan 8-2 dari Bayern Munich memukul rasa percaya diri pemain Barca |
Setien juga tidak dapat meyakinkan para pemain Barcelona untuk mempercayainya. Hingga pada akhirnya ketidakpercayaan skuad Barca membuat Setien pun tak percaya pada dirinya sendiri, sehingga meninggalkan formasi 3 beknya dan beralih ke formasi 4-4-2. Kita dapat mengetahui hasilnya pada saat mereka bertemu Bayern pada babak perdelapan final Liga Champions. Tanpa kepemimpinan, tak ada visi bermain, tak ada rasa percaya diri, tak ada kepaduan, tim Barcelona pun dihancurkan oleh Bayern Munich yang sangat perkasa.
Pada saat ini, Koeman mewarisi tim yang tidak percaya diri dan para pemain bintang yang sudah mulai menua serta beberapa pemain yang memiliki pengaruh terlalu besar di ruang ganti. Koeman dikenal sebagai manajer yang cukup otoriter, dan itulah yang diperlukan oleh Barca saat ini. Koeman diharapkan dapat menstabilkan ego dari skuad Barcelona dan memberikan kestabilan di sisi pertahanan Barcelona. Mungkin dia akan membutuhkan waktu satu atau dua tahun untuk kembali membangun pondasi tim yang baru. Sehingga, bagi para fans Barca, tak perlu berharap lebih pada Koeman. Memenangkan La Liga sudah lebih dari cukup untuk tim saat ini, dan, untuk saat ini, Koeman adalah orang yang paling tepat untuk menangani Barcelona.
0 Komentar untuk "KELAYAKAN KOEMAN DI BARCELONA"