-->

who facilitates the work of the false nine and operates in tandem with him to destabilise opposition defences

Good Bye, El Maestro!

Treble pada musim 2008/2009 menjadi puncak kejayaannya.
Sebuah crossing yang sederhana membelah dua benteng terhebat dari Manchester kala itu dan memudahkan seorang pemuda dengan tinggi badan 169 cm mengirim sebuah heading menyilang dan tak bisa dijangkau sang empunya gawang. 2-0. Penguasa Catalan kala itu memenangkan pertempuran melawan serdadu Manchester merah.

Enam tahun setelah itu, sang pengirim crossing ternyata harus menyudahi perjalanan karirnya di klub kesayangannya. Yap, Xavier Hernández i Creus sepertinya sudah harus pergi dari Camp Nou. Faktor usia akhirnya mengalahkan kemauan Xavi untuk terus berada di level tertinggi.

Entah mengapa, menonton Xavi bermain memberikan suatu pengalaman yang luar biasa. Dia tak banyak men-driblle bola seperti Leo Messi, tapi Xavi selalu bisa memberikan sesuatu yang hanya bisa ada di imajinasiku. Tak terhitung banyaknya passing, through ball yang membuatku terhenyak. Salah satu yang masih membekas adalah umpan panjangnya kepada Thierry Henry pada laga El-Classico di Bernabeu pada musim 2008/2009. Membelah pertahanan Los Blancos dan Henry hanya tinggal berhadapan dengan Cassilas.

Iniesta will miss something...

Pemain yang disebut-sebut sebagai couple dari Xavi, Iniesta, pasti akan merindukan kehadiran Xavi dilapangan nantinya. Begitu dekat hubungan mereka, sampai-sampai mereka bertukar nomor punggung di tim nasional dan klub. Mereka juga yang pada tahun 2010, bersama dengan Messi, menjadi tiga besar Ballon D'or. Walaupun akhirnya si Kutu yang memenangkan penghargaan tersebut.
Seratus Passing dalam Satu Laga?

Bagi sebagian orang, permainan oper mengoper sepertinya sangat membosankan bagi mereka. Tapi, bagi Xavi, itu adalah caranya untuk mengontrol permainan. Oper. Oper. Oper. Sampai lawan pun lelah mengejar bola. Tak perlu banyak bergerak, hanya gerakan simpel dengan kontrol bola yang luar biasa.
Good Bye, El Maestro..

Sudah saatnya memang Xavi digantikan oleh pemain lain yang lebih muda. Tak mungkin dia akan selamanya membela Barcelona. Barca kehilangan satu lagi legendanya. Jika musim lalu Carles Puyol yang pergi meninggalkan Nou Camp, maka ada lagi lulusan La Masia yang pergi dengan status sebagai kapten. Barca tak akan pernah sama tanpa kehadiran pemain yang mempunyai trademark tiki-taka.

0 Komentar untuk "Good Bye, El Maestro!"

Back To Top