Setelah melewati satu pemain QPR, Kun, begitu ia biasa di sapa, melepaskan tendangan yang berbuah gol ke gawang QPR. Gol itu bisa jadi merupakan salah satu gol yang paling bersejarah bagi fans City. Betapa tidak, gol tersebut membuat City menjadi juara EPL 2011/2012. Unggul produktivitas gol dari Man United yang harus tunduk dua kali ditangan Man City musim itu.
![]() |
| MU hanya juara selama 1 menit. Hahahaha |
Di venue lain di lain waktu, Chelsea menjadi kampiun UCL 2011/2012 untuk pertama kalinya dengan penuh 'kontroversi'. Mereka seolah dibantu Tuhan untuk melewati hadangan Barca, yang secara mengejutkan berhasil mereka tundukkan di Stamford Bridge, dan 'memandulkan' Messi di Camp Nou. Tidak sampai disitu, Chelsea yang menghadapi Bayern Munich di final, hanya butuh 1 corner kick untuk menghasilkan gol penyama kedudukan. Drogba menjadi pahlawan Chelsea dengan memastikan kemenangan Chelsea melalui adu pinalti.
![]() |
| For the 1st time.. |
Apa persamaan kedua hal diatas?. Jika anda bisa menebak, kedua klub itu adalah klub yang dikenal dengan hobby belanja pemain bintang. Diawal musim lalu, City mengeluarkan uang sebesar 40 juta euro untuk seorang Aguero. Jumlah yang sangat pantas memang. Tapi........
Diawal musim 2012/2013, dunia seolah disentak dengan pindahnya Ibra dan TS33 ke PSG.. atau P$G..:). I don't know which is the right one!:). Tak ingin kalah saing, Zenith St. Petersburg mendaratkan dua talenta klub Portugal, Hulk dari Porto, dan Axel Witsel dari SLB dengan biaya transfer yang selangit. Sepertinya kedua klub itu ingin mengikuti jejak sang kampiun UCL, yang juga berhasil mendatangkan Hazard, Oscar, Azpilicueta, Marin, dan sederet bintang lainnya dengan uang yang tidak sedikit.
Memang, perjalanan sang empunya uang sangatlah nyaman. Uang masih sejalan dengan prestasi. Namun klub-klub tersebut tak ubahnya seperti orang yang telah memasang bom waktu dibadannya sendiri. Mengapa begitu??
Lihatlah Chelsea, mereka seperti pecundang besar di kompetisi Eropa. Juara di musim sebelumnya, tapi fase grup UCL pun tak bisa dilalui klub London barat tersebut. Ya, Chelsea gagal di fase grup liga Champion. Bukankah itu sebuah sinyal bahaya??. Manchester city juga sepertinya kompak dengan Chelsea, yang tak mau ikut fase knock out UCL. Bahkan City harus kalah saing dengan Dortmund yang baru saja kehilangan Kagawa yang hengkang ke MU. Tentu itu bukan berita yang bagus buat duo C ini.
Diliga, Chelsea juga kurang konsisten. Sempat meledak diawal musim, tapi nampaknya performa The blues menurun dengan pasti. City juga kalah saing dengan MU di Liga Inggris, setidaknya sampai saat ini. Belum lagi bahaya Financial Fair Play yang membayangi klub-klub yang mengalami kerugian di atas 45 juta euro. Tentu dengan pengeluaran yang besar, klub-klub yang dibahas diatas setidaknya akan mengalami kerugian. Apalagi, klub-klub tersebut tidak punya income yang banyak.
Jadi, apakah belanja jor-joran merupakan solusi untuk prestasi? Ada dua versi jawaban. Jika ingin instan? Jawabannya ya. Jika ingin jangka panjang? Jawabannya TIDAK. Adakah pernah terdengar Barca membeli pemain dengan jorjoran?. Saya rasa hanya Ibrahimovic dan David Villa saja yang punya harga di atas rata-rata.
Untuk bisa sukses tidak bisalah instan. Klub harus bisa membuat sistem pembinaan pemain muda, sehingga akan tercipta keseimbangan dikompetisi-kompetisi Eropa. Saya tidak melarang klub untuk belanja besar-besaran. Tapi hendaknya hal itu di ikuti dengan pengembangan sistem pembinaan pemain muda.
At least, Barca tetap tidak kalah saing dengan klub-klub kaya baru tersebut. Semoga, FFP yang diterapkan UEFA akan membawa sepakbola ke persaingan yang lebih bersih.
Labels:
Chelsea,
Manc. City,
PSG
Thanks for reading ExtraTime : Money is (not) everything. Please share...!


0 Komentar untuk "ExtraTime : Money is (not) everything"